Tatacara Menjalani Hidup di Bandung dari Pengalaman Sarah N Aini

Tatacara Menjalani Hidup di Bandung dari Pengalaman Sarah N Aini

Jutaan orang percaya bahwa Indonesia merupakan negara yang kaya akan budaya.

Budaya yang bukan hanya turun temurun dari leluhur, namun juga budaya yang secara tak sengaja tercipta di masyarakat.

Hidup di tanah Sunda membuat beberapa orang bersikap lebih ramah dan santai, setidaknya itu menurut beberapa orang.

Tapi, bukan berarti hal itu membuat kita bisa hidup bebas sebebasnya, tentu ada beberapa rintangan, halangan, bahkan lika-liku kehidupan yang pastinya akan hadir kapan saja.

Menunjukkan Tempat di Daerah Bandung

Kalau kamu pergi ke Bandung bagian pegunungan, hutan, atau menuju tempat wisata yang membutuhkan usaha keras untuk sampai ke sana.

Namun, provider internet kamu bukan provider kalangan sultan, sharelocation atau GPS mungkin sulit dijangkau, maka yang kalian harus gunakan adalah JPS (Jaringan Penduduk Sekitar).

Kalian hanya harus bertanya dengan bahasa yang dimengerti warga sekitar.

Karena terkadang warga menyebutkan arah dalam bahasa Sunda, maka mau tidak mau kalian juga harus belajar bahasa sunda juga.

Kita mungkin biasanya bertanya,

Percakapan Antar Warga Sekitar

Kami: [Pak, punten bade tumaros pami ka alamat ieu palih mana nya?]

Artinya: Pak, maaf mau tanya kalau alamat ini sebelah mana ya?

Warga: [Oh, caket eta mah da mapah sakedik ka luhur tos nepi. Caket da, sakedap deui!]

Artinya: Oh, deket kok itu cuma jalan sedikit ke atas udah sampai. Deket kok, sebentar lagi!

Tapi, ternyata versi deket itu kita masih harus mendaki gunung lewati lembah mampir di WC masjid.

Oleh karena itu, kalian harus memiliki fisik yang kuat ketika mengunjungi beberapa tempat di Bandung.

Kalian mungkin harus menghapal arah dalam Bahasa Sunda seperti Kaler-Kidul-Wetan-Kulon. Artinya apa tuh? manja banget ah, cari aja sendiri di Google.

Orang Bandung Suka Merendah

Tatacara Menjalani Hidup di Bandung dari Pengalaman Sarah N Aini

Merendah di sini mungkin berbeda versi dari yang biasanya.

Misalnya kalian main ke rumah teman, lalu ibunya menyuguhi kalian makanan dan mempersilakan kalian tidur di kamar yang sudah disiapkan.

Maka kalimat yang selalu terlontar adalah:

“Punten nya, teu gaduh nanaon. Sok saaya-aya, ayana ngan nu kieu Ibu mah.”

Artinya: Maaf ya, enggak punya apa-apa. Seadanya saja ya hanya punya ini.

Padahal si Ibu udah belanja habis-habisan dan makanan yang disediakan banyak banget.

Entah apa sebenernya maksud perbuatan di atas, yang jelas hal ini sudah menjadi budaya sendiri sehingga banyak anak muda yang ikut memakai cara itu untuk menaikkan eksistensi dirinya.

“Iih aku gendut giniiii” Padahal badan dia udah kayak Bihun, dan jawaban yang dia harapkan dari temannya adalah, “Iih nggak kok kamu langsing banget, aku nih yang gendut udah kayak bawa-bawa ikat pinggang ke mana-mana”

Lalu si orang yang badannya kayak Bihun tadi tertawa puas.

Eh tapi ternyata setelah ngobrol sana sini, budaya ini bukan cuma budaya warga Bandung, tapi sudah meng-Indonesia.

Orang Bandung Suka Menambahkan Huruf H di Beberapa Kesempatan

Entah kenapa kalau ketemu orang yang sunda banget ngomong ‘gue’ atau ‘Mie’ selalu ditambah dengan huruf H di akhir. Misalnya ketika saya bilang sama teman yang suku jawa, “Aku mau makan emih aja deh.”

Terus dia akan jawab, “apaan sih emih? mie kali, Sar!”

atau ketika teman saya yang orang betawi manggil ibunya dengan sebutan ‘Emih’ saya dengan refleks nanya, “kenapa sih makan emih terus?”

“Emih tuh emak guaaaa, tau! ah elu mah sekate-kate!” saya berasa dimarahin Bang Mandra.

Orang Bandung senang bilang kue menjadi kueh, cakue menjadi cakueh, atau kadang-kadang terdengar sayup-sayup anak muda yang bilang gue jadi gueeh, ya macem-macem lah tergantung lingkungan.

Di Bandung Musuh Terberat Diet Adalah Tukang Dagang di Lapangan Olahraga

Sepertinya tukang dagang dan orang yang sedang berolahraga mengalami persaingan sengit, karena ya, di setiap lapangan olahraga di Bandung.

Pasti ada nangkring tukang Cuanki, Cilok, Seblak, sampai Nasi Kuning dan Lontong Kari.

Niat hati ingin diet dan berolahraga, iman tak kuat menahan godaan tukang Cuanki yang wanginya radius 1 km aja udah kecium.

Belum lagi minuman Boba dan Thai Tea yang banyak nangkring di pinggirnya, kalau kalian abis lari keliling lapangan berniat untuk diet dari rumah tapi pas sampai sana udahannya malah jajan, Now Playing Maudy Ayunda — Untuk Apa.

Beberapa Makanan Tradisional yang Mulai Eksis Lagi

Surabi Durian, Green Tea, Coklat dan Keju Kuliner Khas Sukabumi, Jawa Barat
Surabi Durian, Green Tea, Coklat dan Keju Kuliner Khas Sukabumi, Jawa Barat

Kalau kamu dulu denger Bandung identiknya dengan Peuyeum namun sekarang identik dengan Brownies Amanda, kamu nggak salah!

Beberapa tahun ke belakang Peuyeum atau Tape Singkong memang udah nggak ngehits lagi.

Bahkan yang suka makan Peuyeum sekarang cuma orangtua.

Anak muda jarang yang makan Peuyeum.

Begitu juga dengan Surabi (Serabi) atau Dorayakinya Bandung, dulu Surabi cuma ada dua rasa, rasa gula merah dan oncom.

Sekarang Surabi sudah ada berbagai rasa, dari mulai telur sampai keju, bahkan ada rasa greentea.

Ada beberapa tempat Surabi yang enak selain di Jalan Setiabudhi, Surabi yang masih dijual di pinggir jalan masaknya pake kayu bakar letaknya ada di deket Monumen Perjuangan Masyarakat Jabar, alias Monju.

Tapi beberapa Surabi juga sudah jarang sekali digandrungi anak muda, karena Donat kekinian lebih hits atau Pizza dengan berbagai toping dan promo gofood sudah pasti lebih menjadi primadona.

Referensi: https://medium.com/@sarahastro/

Tinggalkan komentar