Harbolnas

Tanggal 12/12 merupakan hari yang menarik dan unik.

Seperti biasa, kami memulai hari dengan menegeuk secangkir teh sambil memadang suasana hijau.

Kemudian, sebuah paket datang.

Dan, ternyata isinya adalah perangkat yang sudah saya impikan sejak lama. Sweet!

Lalu, muncul sebuah tweet di timeline Twitter: “Ini beneran nih diskonnya sampai tujuh puluh persen?”

Saya penasaran.

Saya melihat logo yang tidak asing lagi di sudut kiri atas screenshoot yang terpampang bersama dengan tweet itu.

Saya masih tenang saat itu juga.

Mulailah saya mencoba produk yang sama di sebuah marketplace.

Produk yang saya cari muncul, dengan badge diskon 70%.

Ini sangat menarik!

Saya rasa, kamu sudah mengetahui produk apa yang sedang saya bicarakan.

Ya, kisah ini adalah tentang laptop gaming MSI yang biasanya dijual dengan harga tak terjangkau.

Kini, produk itu masuk ke dalam keranjang belanja saya dengan harga tidak lebih dari Rp4 juta!

Saya masih penasaran—dan sedikit tak percaya karena laptop ini terbilang baru dan selisih harganya lumayan jauh.

Didorong rasa penasaran yang besar, saya pun melanjutkan proses belanja.

Selang beberapa detik, ada notifikasi tentang cara pembayaran.

Seperti biasa, saya pun membayar lewat layanan mobile banking.

Notifikasi berikutnya muncul, kali ini mengabarkan bahwa pembayaran sudah diterima. Status pesanan saya berubah menjadi Terkonfirmasi.

Diskon fiktif dan masalah lain

Kekacauan di Hari Belanja Online Nasional (Harbolnas)  tidak cuma terjadi di Bukalapak (Termasuk dkk seperti Tokopedia, JD.ID, Shopee, Blibli) .

Ada banyak (terlalu banyak) masalah yang muncul. Yang menyebalkan adalah masalah serupa terulang tiap tahun.

Promo di JD.ID, misalnya, disediakan dengan slot yang sangat terbatas.

Dari ribuan orang yang bersiap untuk mendapatkan barang idaman dengan harga Rp99.000 saja, hanya 25 hingga lima puluh orang yang dipilih.

Itu pun masih ada yang daftar pemenangnya direvisi.

Di Lazada dan beberapa e-commerce lain muncul diskon-diskon fiktif.

Sepertinya saya sempat melihat Xiaomi Redmi Note 4 dijual dengan harga Rp99 juta. Rp99 juta!

Tapi tenang, diskonnya juga 98 persen, jadi harganya sesudah diskon menjadi sekitar Rp2 juta. Sebentar, ini ada yang salah deh….

Jangan buat saya memulai diskusi ini dengan e-commerce yang diduga mengiklankan diskon besar-besaran, hanya untuk mengumumkan bahwa rekan yang mereka kenal yang akan menerima potongan harga tersebut.

Mungkin saya saja yang skeptis, tapi Harbolnas ini lebih terasa seperti Hari Bohong Online Nasional.

Redmi Note 4 dijual hanya seharga Rp2 juta setelah diskon 98 persen adalah hal konyol. Benar-benar konyol.

Apakah mereka pikir konsumen sebodoh itu?

Sampai jumpa tahun depan?

Saya punya firasat bahwa kekacauan yang sama akan terulang lagi di Harbolnas tahun depan.

Tak akan ada yang berubah.

Kita sudah terlalu terbiasa dengan trik marketing seperti ini.

Dan, dengan bodohnya, kita juga terlalu mudah terpancing—termasuk saya.

Referensi:

Tinggalkan komentar