Apakah Orang yang Rutin Puasa, Kadar Kolesterolnya Rendah (Aman)?

Apakah Orang yang Rutin Puasa, Kadar Kolesterolnya Rendah (Aman)?

Akhmad Abror As Sidiqi, S1 Kedokteran hewan, Universitas Gadjah Mada (2019)

Ya, tepat sekali.

Puasa artinya tidak makan, tidak ada asupan kolesterol dari makanan sampai waktu tertentu.

Bagi orang Islam, waktu berpuasa sampai adzan maghrib.

Kolesterol diperoleh melalui makanan atau melalui biosintesis tubuh.

Sekitar setengah dari kolesterol tubuh diperoleh dari biosintesis.

Bahan biosintesis koleserol adalah trigliserida yang berasal dari jaringan lemak tubuh dan konversi molekul lain, umumnya glukosa.

Jadi, laju biosintesis kolesterol sangat menentukan kadar kolesterol dalam tubuh.

Ramadhan No Lunch for 30 Days
Akizaku Ramadhan No Lunch for 30 Days (Thank’s to: Ramadhan Meme)

Fase Katabolik

Puasa memicu fase katabolik, yaitu lipolysis karena terjadi hypoglycemia dalam darah.

Lipolysis merombak lemak sebagai sumber energi menggantikan glukosa.

Keadaan ini, selain menghambat biosintesis kolesterol, akan membuat lemak lebih cepat dioksidasi menjadi energi.

Fase katabolik ini mirip dengan diabetes melitus, insulin rendah dan glukagon tinggi. Kombinasi hormon ini mempertahankan lipolisis.

Kebetulan saya pernah ikut membantu penelitian dosen saya tentang kambing yang mengalami restriction feeding.

Saya kira skenario yang terjadi pada metabolisme kambing ini mirip dengan puasa hehe.

Penelitian pada Pertumbuhan Kambing

Penelitian ini tentang efek pembatasan pakan pada pertumbuhan kambing. Restriction feeding (RF) sebenarnya beda dengan puasa yang berarti tidak memasukkan makanan ke dalam saluran pencernaan.

Kambing yang mengalami RF dikurangi jumlah pakannya sebesar 40%, 50%, dan 60% selama 60 hari.

Pengurangan pakan saya kira memberikan efek yang mirip dengan puasa.

Perlakuan selama dua bulan ternyata menunjukkan kadar high density lipoprotein (HDLdan low density lipoprotein (LDL), dan non esterified fatty acids (NEFA) yang dipertahankan tetap tinggi.

Sementara itu, kadar glukosa dan trigliserida dalam darah kambing mengalami penurunan konstan.

Kadar NEFA, LDL dan HDL yang dipertahankan meningkat selama RF menunjukan penggunaan lemak yang tinggi untuk menggantikan glukosa sebagai sumber energi.

Sebaliknya, kadar trigliserida yang menurun konstan menunjukan bahwa tubuh tidak sedang dalam keadaan memproduksi lemak, termasuk kolesterol.

Apakah Orang yang Rutin Puasa, Kadar Kolesterolnya Rendah (Aman)
Apakah Orang yang Rutin Puasa, Kadar Kolesterolnya Rendah (Aman) (Thank’s to: Mojok.co)

Keunikan Lain pada Penelitian Ini

Keunikan lain yang bisa ditemukan dari penelitian ini adalah lipolysis yang masih berlanjut setelah refeeding. 

Sederhananya, refeeding ini bisa kita anggap seperti buka puasa.

Kambing akan mendapatkan jumlah makanan 100% setelah RF.

Efek lipolysis yang melanjut ini membuat glukosa darah tetap rendah meski jumlah pakan sudah dikembalikan.

Kadar NEFA, LDL, HDL, dan trigliserida juga menunjukan tren yang sama seperti saat RF.

Lipolysis masih berjalan meski refeeding dilakukan selama 60 hari.

Penggunaan glukosa sebagai sumber energi dari pakan menjadi lebih efektif.

Lipogenesis, secara bersamaan, yang menggunakan glukosa sebagai sumber karbon menurun karena glukosa cenderung digunakan untuk membentuk energi.

Baca juga:

Kesimpulan dan Hikmah dari Penelitian Ini

Hikmah dari penelitian ini adalah bahwa “puasa” yang diperlakukan pada kambing ternyata membakar timbunan lemak.

Puasa yang rutin berarti merutinkan lipolysis yang berlanjut.

Konsekuensinya, kadar gula darah dan trigliserida akan terjaga tetap rendah.

Kolesterol sendiri selain terjaga dari asupan pakan, terjaga pula karena gula darah cenderung digunakan dalam produksi energi daripada produksi trigliserida.

Pendapat saya, mungkin ini yang menjadi alasan puasa rutin mampu menjaga kadar kolesterol tubuh tetap aman. Misal puasa selang-seling, efek lipolysis melanjut ini yang mungkin mendasari lemak tubuh orang yang berpuasa tetap terjaga.

Terimakasih.

Wallahu’a’lam bish shawwab (Dan Allah SWT Lebih Tahu atau Mahatahu).

Semoga bermanfaat dan menjawab. 🙂

Reference:
1. Color Atlas of Biochemistry
2. DOI: 10.3923/pjn.2017.101.108

Tinggalkan komentar