Angin Duduk: Gejala dan Penyebab

Akizaku Lovers,

Pernah enggak kalian mendengar istilah “Angin Duduk”?

Tahukah kamu kalau angin duduk salah satu jenis penyakit-penyakit jantung loh!

Berikut ini penjelasan dari Dr. Addiena Primawati, SpJP, pakar dokter specialis jantung Rumah Sakit Evasari Awal Bros Jakarta.

Agar kalian tahu lebih kenal penyakit jantung Anging Pektoris ini.

Apa itu Angin Duduk?

Angin Duduk (Istilah Ilmiah: Angina Pektoris) merupakan rasa nyeri pada dada yang terjadi ketika drah dan oksigen menuju otot jantung tersendat atau terganggu” menurut penjelasan

Addiena Primawati

Siapa yang memiliki risiko terkena angina pektoris?

Risiko seseorang dapat mengalami ini bisa meningkat dengan kondisi berikut:

  • Saat kita memasuki usia tua,
  • Memiliki keturunan kelainan jantung atau gejala angina,
  • Gaya hidup tidak sehat,
  • Kondisi medis bermasalah lainnya seperti: hipertensi, kolestrol tinggi, dan diabetes.

Penyebab Angin Duduk

Dokter Addiena Primawati menjelaskan,

Bahwa dalam jangka waktu tertentu, arteri berisiko diendapi plak seperti:

  • Lemak,
  • Kolestrol,
  • Kalsium dan zat lainnya.

Yang mengakibatkan pembuluh darah menyempit dan tersumbat (Istilah aterosklerosis dari bahasa Yunani).

Kondisi ini mengakibatkan otot jantung bekerja lebih keras, khususnya pada saat melakukan aktivitas berat.

Pada akhirnya berpotensi mengakibatkan gejala angina pektoris.

Lebih parah lagi adalah penyakit jantung koroner (PJK).

Apa saja gejala angin duduk?

Gejala awal terjadinya serangan angin duduk umumnya ditandai dengan sebagai berikut:

  • Rasa nyeri pada dada seperti ditekan, berat, dan tumpul,
  • nyeri juga dapat menyebar atau hanya dirasakan di dada kiri, lengan kiri, leher, rahang, dan punggung,
  • mendadak sesak napas, mudah lelah, maupun merasakan nyeri seperti gejala penyakit asam lambung.

Tes Fisik

Karena itu, selain melakukan tes fisik dan menanyakan riwayat kesehatan pasien beserta keluarga, tes berikut juga akan dilakukan:

  • Elektrokardiogram (EKG).
  • Tes toleransi olahraga (ETT).
  • Foto Rontgen dan CT scan.
  • Angiogram koroner.

Elektrokardiogram (EKG)

Untuk memeriksa aliran listrik jantung dan memantau jika terdapat interupsi pada irama jantung.

Tes Toleransi Olahraga (ETT)

Untuk memantau toleransi jantung saat melakukan olahraga ringan hingga berat. Tes ini umumnya dilakukan di atas mesin treadmill atau sepeda statis OB Fit.

Foto Rontgen dan CT scan.

Pemindaian ini dilakukan yang berguna untuk memeriksa kondisi otot, pembuluh darah dan ukuran jantung, dan paru-paru.

Angiogram Koroner

Untuk memeriksa kondisi arteri jantung dengan menyuntikkan zat pewarna (bahan kontras) khusus dan dipantau dengan memasukkan selang tipis dan lentur (kateter) melalui pembuluh darah besar di paha atau lengan menuju ruang jantung.

Reference: https://www.alodokter.com/angina-pektoris

Tinggalkan komentar